Bebas Dari Candu Kesibukan

Dulu kukira kesibukan membawa kebahagiaan. Satu demi satu pekerjaan yang terselesaikan menyuntikkan rasa puas dan bangga. Rasa percaya akan kemampuan diri makin terbukti seiring banyaknya pekerjaan yang terselesaikan. Aku pun semakin larut dalam kesibukan, bahkan mencari lebih banyak kesibukan demi pembuktian dan kepuasan diri.

Namun, kemudian keadaan berubah. Hingga suatu saat, aku melepaskan hampir semua kesibukan yang bercumbu dengan waktu, yang tanpa sadar telah melilit tubuh ini.

Rasanya seperti lepas dari candu. Ketika pekerjaan dibagikan di grup kerja, tangan rasanya gatal ingin segera mengerjakan dan menyelesaikannya. Butuh waktu untuk membiasakan diri. Aku menahan diri agar terbiasa tidak ikut campur dalam pekerjaan yang kini bukan lagi porsiku.

Kini aku merasakan kebebasan. Begitu banyak waktu yang bisa kuluangkan untuk berbagai hal yang bermakna. Deadline tak lagi mengejarku. Aku bisa menemani anak belajar, bermain gim dengan tenang, mengajar dengan lebih fokus, lebih sering iseng menggoda istri, melamun dengan lebih serius, serta memperhatikan detail-detail kecil kehidupan yang dulu bersembunyi di balik candu kesibukan.

Apakah aku sekarang lebih bahagia?. Jawabanku adalah iya. Seandainya bisa mengulang waktu, aku mungkin akan membebaskan diri bahkan lebih awal lagi. 

Seandainya takdir diibaratkan sebagai sebuah pohon, dan seandainya dulu aku memilih untuk terus memaksakan diri mengejar pembuktian serta kepuasan di cabang 'candu kesibukan', aku mungkin tidak akan memiliki waktu untuk menemani anak belajar. Dan tentunya, aku tidak akan pernah merasakan cabang takdir yang lain. Cabang yang baru akan berbuah jika kuberikan perhatian padanya.

Amran Juara



Komentar

Posting Komentar