Smartboard AI Mulai Masuk Sekolah Indonesia
Smartboard AI Mulai Masuk Sekolah Indonesia: Revolusi atau Sekadar Gimik?
. Dibuat oleh sistem riset otomatis untuk keperluan informasi publik — 22 Mei 2026
Jakarta – PT ASIX Indonesia Cerdas (ASIX) baru saja mengumumkan kerja sama dengan Promethean EDXIS, perusahaan teknologi pendidikan global asal Inggris, untuk menghadirkan smartboard berbasis kecerdasan buatan (AI) ke sekolah-sekolah Indonesia. Kolaborasi yang telah berjalan sejak Juni 2025 ini menjanjikan sistem pembelajaran digital modern yang terintegrasi — lengkap dengan fitur keamanan, akses offline, dan kemampuan AI.
Tapi pertanyaannya: apakah ini benar-benar solusi untuk masalah pendidikan Indonesia, atau sekadar produk mahal yang akan berdebu di sudut kelas?
Sumber: Republika.co.id | Selular.id | SWA.co.id
Apa Itu Smartboard AI dari ASIX-Promethean?
Smartboard ini bukan sekadar papan tulis digital biasa. Ini adalah sistem ekosistem pembelajaran terintegrasi yang terdiri dari:
- Perangkat smartboard dengan teknologi AI – bisa terhubung dengan tablet dan laptop siswa
- Fitur keamanan siswa (Student Safe Security) – mendeteksi aktivitas berisiko seperti perundungan (bullying), pencarian konten kekerasan, hingga indikasi bunuh diri
- Explain Everything Software – perangkat lunak kolaborasi interaktif di kelas
- Microcloud Server – server penyimpanan konten yang bisa diakses secara offline
- MDM (Mobile Device Management) – kontrol terpusat untuk pengelolaan perangkat
- Real-Time Dashboard – monitoring aktivitas belajar secara langsung
- Integrated Teacher Enablement Suite – pelatihan dan dukungan untuk guru
CEO ASIX, Andrie Tjioe, menegaskan bahwa pemanfaatan AI di sektor pendidikan tidak cukup hanya menghadirkan perangkat teknologi, tetapi juga harus mampu memberi dampak nyata bagi guru dan siswa.
"Kami percaya bahwa pemanfaatan AI di sektor pendidikan tidak hanya harus mampu menghadirkan perangkat digital, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi guru dan siswa."
— Andrie Tjioe, CEO ASIX
Sumber: Republika — Digitalisasi Pendidikan | SWA.co.id — ASIX-Promethean
Siapa Promethean EDXIS dan ASIX?
Promethean World Ltd
Promethean adalah perusahaan teknologi pendidikan global yang didirikan tahun 1997 di Blackburn, Inggris. Pada tahun 2015, Promethean diakuisisi oleh NetDragon Websoft, perusahaan video game asal China. Kini mereka berkantor pusat di Seattle dengan cabang di Atlanta dan Inggris.
Klaim mereka: sudah digunakan di 190+ negara, mencakup 2 juta+ ruang kelas, dan menjangkau 150 juta+ pengguna secara global. Produk flagship mereka adalah ActivPanel 10, smartboard interaktif yang sudah banyak dipakai di sekolah-sekolah Eropa, Amerika, dan Asia.
Sumber: Wikipedia — Promethean World | Promethean World Official
PT ASIX Indonesia Cerdas
ASIX adalah perusahaan AI accelerator yang merupakan anak perusahaan dari PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), bagian dari Sinarmas Group. Uniknya, ASIX adalah hasil joint venture antara Sinarmas Group dengan China Mobile, operator telekomunikasi terbesar di dunia.
Bisnis ASIX tidak terbatas pada pendidikan saja. Mereka juga menggarap AI City (Digital Twin), AI Factory, AI Healthcare, AI Transport, AI Security, dan berbagai solusi AI lainnya. Mereka telah menjalin kerja sama dengan ITB, BSDE (Bumi Serpong Damai), dan TNI AU.
Sumber: ASIX Official Site | ITB — Kerja Sama dengan ASIX | Kompas — Sinarmas-ASIX
Latar Belakang: Mengapa Smartboard AI Masuk Sekolah Sekarang?
Ada beberapa faktor yang membuat waktu ini tepat:
- Pasca-Pandemi: COVID-19 memaksa sekolah beradaptasi dengan pembelajaran jarak jauh. Kesenjangan digital di pendidikan Indonesia terpapar jelas, dan pemerintah pun mulai serius mendorong digitalisasi.
- Kurikulum Merdeka Belajar: Kebijakan Kemendikdasmen yang menekankan fleksibilitas dan personalisasi pembelajaran sangat cocok dengan teknologi AI yang adaptif.
- STRANAS AI: Pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Presiden No. 95/2021 tentang Strategi Nasional Kecerdasan Artifisial (STRANAS AI), yang menjadikan pendidikan sebagai salah satu pilar utama.
- Pasar EdTech Global: Pasar AI dalam pendidikan diproyeksikan mencapai $20-25 miliar pada 2027-2030, dan Indonesia adalah pasar yang terlalu besar untuk diabaikan.
- Isu Keamanan Digital: Kasus cyberbullying dan konten negatif di kalangan pelajar makin marak. Fitur Student Safe Security dari smartboard ini menjawab kebutuhan perlindungan anak di ranah digital.
Sumber: Wikipedia — AI in Education | Wikipedia — Education in Indonesia
Analisis: Potensi dan Tantangan
A. Potensi Positif
1. Solusi untuk Kesenjangan Digital. Kehadiran Microcloud Server yang bisa diakses offline menjawab masalah klasik sekolah di daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal). Dari total sekitar 236.000 sekolah di Indonesia, sebagian besar di luar Jawa masih bergulat dengan masalah konektivitas internet. Teknologi offline ini membuat smartboard tetap berguna meski tanpa koneksi internet.
2. Keamanan Digital Anak. Fitur deteksi cyberbullying dan konten berbahaya adalah nilai tambah yang signifikan. Di era di mana anak-anak SD pun sudah punya smartphone, kehadiran sistem yang bisa memonitor aktivitas digital di lingkungan sekolah sangat diperlukan.
3. Personalisasi Pembelajaran. AI memungkinkan materi disesuaikan dengan kemampuan masing-masing siswa. Bukan lagi satu ukuran untuk semua, melainkan pembelajaran yang adaptif — esensi dari Kurikulum Merdeka.
4. Pelatihan Guru Terintegrasi. Salah satu kelemahan program digitalisasi sebelumnya adalah guru ditinggal begitu saja setelah perangkat terpasang. ASIX menyertakan Teacher Enablement Suite, yang jika dijalankan dengan serius, bisa mengatasi masalah kompetensi digital guru.
CATATAN PENTING: Indonesia memiliki sekitar 170.000 SD, 40.000 SMP, dan 26.000 SMA/SMK. Dengan rasio guru-siswa yang masih timpang dan distribusi yang tidak merata, teknologi AI bisa menjadi force multiplier — tapi hanya jika implementasinya tepat.
Sumber: Wikipedia — Pendidikan Indonesia | Wikipedia — Internet di Indonesia
B. Kekhawatiran dan Tantangan
1. Biaya yang Tidak Murah. Smartboard dengan teknologi AI jelas tidak murah. Indonesia punya sejarah panjang pengadaan smartboard yang bermasalah — mulai dari kasus korupsi hingga perangkat yang dibeli tapi tak terpakai. Pertanyaan besarnya: apakah pemerintah atau sekolah siap menganggarkan dana untuk ini? Atau akan dibebankan ke orang tua murid?
2. Risiko Ketergantungan Teknologi. Ketika smartboard dan AI menjadi pusat pembelajaran, ada risiko guru kehilangan sentuhan pedagogisnya. Pembelajaran bukan sekadar transfer informasi — ada dimensi afektif dan sosial yang tidak bisa digantikan mesin.
3. Privasi Data. Smartboard yang bisa memonitor aktivitas siswa membawa konsekuensi serius pada privasi. Data anak-anak Indonesia akan tersimpan di server perusahaan swasta (Sinarmas-China Mobile). Siapa yang menjamin data ini tidak disalahgunakan? Regulasi perlindungan data di Indonesia masih dalam tahap perkembangan.
4. Kesiapan Guru. Banyak guru SD di Indonesia, terutama di daerah, masih gagap teknologi. Pelatihan yang terintegrasi memang bagus, tapi akankah cukup? Butuh pendampingan berkelanjutan, bukan sekadar workshop dua hari.
Sumber: Republika — Digitalisasi Pendidikan | Selular.id — Smartboard AI
Refleksi Kritis: Akar Filosofis Pendidikan dan Teknologi
Mari kita mundur sejenak. Sejak Ki Hajar Dewantara merumuskan filosofi pendidikan Indonesia — Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani — esensi pendidikan adalah keteladanan dan interaksi manusiawi.
Pertanyaan filosofis yang perlu kita renungkan: Apakah smartboard AI akan memperkuat atau justru menggeser peran guru?
Di satu sisi, AI bisa membebaskan guru dari tugas-tugas administratif dan membantunya menyusun materi yang lebih personal. Guru bisa lebih fokus pada pendampingan, bimbingan karakter, dan interaksi emosional dengan siswa.
Di sisi lain, ada bahaya bahwa sekolah akan berlomba-lomba membeli teknologi canggih tapi melupakan pengembangan sumber daya manusia. Kita sudah melihat pola ini berkali-kali: proyek-proyek mercusuar pendidikan yang berakhir sebagai proyek yang menghabiskan anggaran tanpa dampak berarti.
Filosofi pendidikan Indonesia mengajarkan bahwa pendidikan adalah proses memanusiakan manusia. Teknologi harus menjadi alat, bukan tujuan. Smartboard yang paling canggih sekalipun tidak akan pernah bisa menggantikan senyum guru ketika muridnya akhirnya paham, atau tepukan di pundak yang memberi semangat.
Dampak ke Guru dan Siswa
Dampak untuk Guru
- Positif: Beban administrasi berkurang, materi pembelajaran lebih variatif, umpan balik ke siswa lebih cepat, data perkembangan siswa lebih akurat
- Negatif: Harus belajar teknologi baru, potensi kehilangan otoritas jika siswa lebih mahir, risiko pengurangan jumlah guru jika sekolah mengandalkan AI
Dampak untuk Siswa
- Positif: Pembelajaran lebih interaktif, materi personal sesuai kemampuan, lingkungan digital lebih aman, akses ke konten global
- Negatif: Ketergantungan pada layar, berkurangnya interaksi sosial langsung, potensi kesenjangan antara sekolah yang mampu dan tidak mampu membeli teknologi
Kesimpulan dan Saran Sikap
Inisiatif ASIX-Promethean EDXIS ini patut diapresiasi sebagai langkah maju dalam digitalisasi pendidikan Indonesia. Namun, kita harus bijak dan kritis dalam menyikapinya.
Untuk Pemerintah dan Pembuat Kebijakan:
- Pastikan ada regulasi perlindungan data siswa yang ketat sebelum smartboard ini dipasang massal
- Jangan jadikan ini proyek mercusuar — fokus pada pelatihan guru berkelanjutan, bukan sekadar pengadaan perangkat
- Pastikan distribusi merata — jangan sampai smartboard hanya ada di sekolah kota, sementara sekolah pelosok tetap pakai kapur tulis
Untuk Guru dan Tenaga Pendidik:
- Jangan takut teknologi — jadilah pembelajar sepanjang hayat, ikuti pelatihan yang disediakan
- Tetap jadi manusia — teknologi alat, guru tetap jantung pendidikan
- Berani bersuara jika ada masalah dalam implementasi
Untuk Orang Tua dan Masyarakat:
- Awasi dan kawal — tanyakan ke sekolah bagaimana smartboard digunakan dan data anak dilindungi
- Dukung literasi digital di rumah, jangan serahkan semuanya ke sekolah
- Kritis tapi tidak sinis — dukung inovasi tapi tetap awasi implementasinya
PESAN TERAKHIR:
Teknologi bisa membuat pembelajaran lebih mudah, lebih interaktif, lebih aman.
Tapi ingatlah: guru yang hebat, bukan smartboard yang hebat, yang mencetak generasi unggul.
Sumber-sumber yang digunakan dalam analisis ini:
1. Republika.co.id — Digitalisasi Pendidikan Smartboard AI
2. Selular.id — ASIX Gandeng Promethean EDXIS
3. SWA.co.id — ASIX dan Promethean EDXIS
4. ASIX Official Website
5. Wikipedia — Promethean World
6. Promethean World Official
7. Wikipedia — AI in Education
8. Wikipedia — Education in Indonesia
9. Wikipedia — Internet in Indonesia
10. ITB — Kerja Sama dengan ASIX
11. Kompas — Sinarmas-ASIX Kejar Pasar Global
12. Tabloid Pulsa — Smart Classroom AI
13. Tek.id — ASIX Promethean Smart Classroom
. Dibuat oleh sistem riset otomatis untuk keperluan informasi publik
Asisten Riset Pendidikan — Analisis Otomatis untuk Blogger
22 Mei 2026 • #DigitalisasiPendidikan #SmartboardAI #MerdekaBelajar #AIdiSekolah
Komentar
Posting Komentar