Kuasa Platform di Era Digital: Ketika Algoritma Mengatur Komunikasi Kita

Kuasa Platform di Era Digital: Ketika Algoritma Mengatur Komunikasi Kita

23 Mei 2026 | Sumber: Kompas.com Edu

"Algoritma bukan lagi sekadar sistem di balik layar digital. Lebih dari itu, ia ikut membentuk cara kita berkomunikasi, menerima informasi, dan membangun relasi di ruang digital."

-- Diskoma UGM, @diskoma.ugm

Apa yang Terjadi?

Program Diskusi Komunikasi Magister (Diskoma) Universitas Gadjah Mada (UGM) menyelenggarakan forum diskusi daring ke-29 bertajuk "Kuasa Platform di Era Digital: Ketika Algoritma Mengatur Komunikasi" pada Jumat, 22 Mei 2026. Forum ini menghadirkan Pratiwi Utami, Ph.D (Dosen Ilmu Komunikasi UGM) dan Siska Handiska (Founder dan Creative Lead) sebagai pembicara, dengan moderator Lintang Shabrina.

Yang menarik, forum ini membedah hasil disertasi Janoe Arijanto tentang bagaimana algoritma "menyetir" cara kita berkomunikasi saat ini. Bukan sekadar obrolan akademik biasa -- ini adalah pengakuan bahwa sesuatu yang tak kasat mata telah mengambil kendali atas cara kita berinteraksi, belajar, dan berpikir.

Forum berlangsung melalui Zoom, menyediakan bahasa isyarat, sertifikat, dan hadiah menarik. Pendaftaran melalui bit.ly/DISKOMA29.

Mengapa Ini Penting untuk Dunia Pendidikan?

Sekilas ini mungkin terdengar seperti diskusi mahasiswa biasa. Tapi coba lihat lebih dalam: algoritma tidak hanya mengatur rekomendasi film di Netflix atau video di TikTok. Ia secara diam-diam membentuk pola pikir generasi muda -- siswa dan mahasiswa yang sehari-harinya tenggelam dalam arus informasi dari platform digital.

Beberapa dampak nyata yang perlu kita sadari:

  • Filter Bubble: Algoritma menyajikan konten yang "cocok" dengan preferensi kita. Akibatnya, siswa hanya terpapar pada satu sudut pandang. Mereka kehilangan kemampuan melihat masalah dari berbagai perspektif -- sebuah keterampilan penting dalam pendidikan kritis.
  • Echo Chamber: Di ruang digital, kita cenderung bertemu dengan orang-orang yang sepaham. Ini memperkuat keyakinan yang sudah ada tanpa pernah diuji oleh argumen sebaliknya. Bayangkan dampaknya pada cara siswa berdiskusi dan berdebat secara ilmiah.
  • Fragmentasi Perhatian: Algoritma dirancang untuk memaksimalkan engagement, bukan pemahaman. Akibatnya, generasi muda terbiasa dengan informasi cepat dan dangkal -- kesulitan untuk fokus pada bacaan panjang atau analisis mendalam.
  • Komodifikasi Data: Setiap klik, like, dan share menjadi data yang dijual ke pengiklan. Siswa tumbuh dalam ekosistem di mana perhatian mereka adalah komoditas -- tanpa pernah benar-benar memahami mekanisme di baliknya.

Telaah Filosofis: Akar Masalah

Perspektif Filsafat Barat: The Panopticon Digital

Michel Foucault, dalam analisisnya tentang panopticon (konsep penjara di mana tahanan selalu bisa diawasi tapi tak pernah tahu kapan diawasi), menggambarkan mekanisme kekuasaan melalui pengawasan. Algoritma adalah panopticon versi digital. Kita tidak pernah tahu data apa yang dikumpulkan, kapan, dan untuk apa. Tapi kita tahu bahwa kita sedang diawasi. Akibatnya, kita mengatur perilaku kita sendiri -- self-censorship, konformitas, dan kehilangan spontanitas.

Jurgen Habermas, dengan konsep public sphere-nya, mengkhawatirkan bahwa ruang publik yang ideal untuk diskusi rasional telah dikolonisasi oleh kepentingan kapitalis dan kekuasaan sistem. Dalam konteks digital, algoritma mengubah ruang publik menjadi ruang komodifikasi di mana opini bukan lahir dari rasionalitas, melainkan dari apa yang "dianggap penting" oleh mesin rekomendasi.

Perspektif Filsafat Timur: Harmonisme yang Terganggu

Filsafat Timur, khususnya ajaran Konfusius dan Taoisme, menekankan keseimbangan dan harmoni dalam hubungan antarmanusia. Komunikasi bukan sekadar transfer informasi, tetapi sarana untuk mencapai ren (kemanusiaan) dan li (tata krama).

Algoritma mengganggu harmoni ini dengan cara: (1) Mereduksi manusia menjadi data -- kita bukan lagi subjek yang utuh, melainkan kumpulan preferensi dan perilaku; (2) Mempercepat ritme komunikasi -- dalam Taoisme, keseimbangan membutuhkan ruang dan waktu untuk refleksi. Algoritma tidak memberi ruang itu; (3) Menggantikan kebijaksanaan kolektif dengan voting algoritmik -- apa yang "penting" ditentukan oleh engagement, bukan oleh nilai intrinsik.

Filsafat Pendidikan Indonesia: Gotong Royong yang Tergerus

Filsafat pendidikan Indonesia berakar pada nilai Pancasila: gotong royong, musyawarah, kekeluargaan. Ki Hajar Dewantara mengajarkan Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani -- seorang pendidik memberi teladan, membangun semangat, dan mendukung dari belakang.

Algoritma mengancam nilai-nilai ini. Musyawarah untuk mufakat digantikan oleh polarisasi algoritmik yang justru memecah belah. Gotong royong terkikis oleh individualisme digital. Peran guru sebagai teladan (ing ngarsa sung tulada) melemah ketika algoritma TikTok dan Instagram lebih "berkuasa" dalam membentuk karakter siswa daripada guru di kelas.

Dampak pada Kebijakan Pemerintah

Pemerintah melalui Kemendikdasmen dan Kementerian Komdigi mulai menyadari urgensi ini. Beberapa langkah yang telah diambil:

  • Aturan Wajib Nomor HP untuk Akun Medsos -- seperti yang diberitakan Kompas, Komdigi sedang mengkaji aturan ini untuk meningkatkan akuntabilitas digital.
  • Program Literasi Digital Nasional -- meskipun masih fokus pada aspek teknis (phishing, cyberbullying) dibandingkan pemahaman algoritmik.
  • Kurikulum Merdeka -- memberikan ruang bagi guru untuk mengintegrasikan critical thinking, namun belum secara spesifik membahas algoritma dan dampaknya.

Namun, masih ada celah besar: belum ada kebijakan yang secara eksplisit mengajarkan siswa tentang mekanisme algoritma, filter bubble, dan cara menavigasi ekosistem digital secara sadar. Literasi digital kita masih berkutat pada "jangan klik link mencurigakan" -- padahal masalahnya jauh lebih dalam dari itu.

Dampak pada Guru dan Siswa

Bagi Siswa

  • Menurunnya attention span -- terbiasa dengan konten 15-60 detik, kesulitan membaca buku teks atau artikel panjang.
  • Pola pikir instant gratification -- ingin semuanya cepat, termasuk dalam belajar. Proses yang membutuhkan waktu dianggap membosankan.
  • Rentan terhadap misinformasi -- algoritma tidak membedakan kebenaran dan sensasi. Konten provokatif selalu lebih diutamakan.
  • Krisis identitas diri -- identitas dibentuk oleh apa yang "viral" atau "trending," bukan oleh proses refleksi dan pendalaman diri.

Bagi Guru

  • Harus berkompetisi dengan algoritma untuk merebut perhatian siswa. Sebuah pertarungan yang tak seimbang.
  • Perlu meng-upgrade metode mengajar -- tidak cukup hanya menyampaikan materi, guru harus mampu membongkar cara kerja algoritma kepada siswa.
  • Menghadapi generasi yang skeptis terhadap otoritas -- karena algoritma mengajarkan bahwa "setiap orang punya suara yang sama," termasuk suara yang tidak kompeten.

Potensi Masalah di Masa Depan

  1. Kesenjangan Literasi Algoritmik -- siswa dari keluarga mampu akan mendapat pendidikan informal tentang algoritma, sementara yang kurang mampu akan terus menjadi konsumen pasif.
  2. Radikalisasi Digital -- algoritma rekomendasi ekstrem sudah terbukti mampu mengarahkan pengguna ke konten radikal. Dunia pendidikan harus siap menghadapi ini.
  3. Krisis Otoritas Keilmuan -- ketika Wikipedia, ChatGPT, dan TikTok lebih sering diakses daripada buku teks, siapa yang menjadi otoritas pengetahuan?
  4. Kesehatan Mental -- algoritma yang memprioritaskan konten emosional (marah, sedih, iri) untuk engagement berdampak langsung pada kesehatan mental siswa.

Refleksi dan Kritik

Diskusi Diskoma UGM ini, meskipun bernilai, masih berada di ranah akademik-elitis. Forum seperti ini hanya diakses oleh kalangan terbatas -- mahasiswa dan akademisi yang sudah melek isu. Pertanyaan besarnya: bagaimana dengan siswa SMK di pelosok? Guru SD di daerah terpencil? Orang tua yang tidak paham cara kerja Instagram?

Kritik lain: diskusi ini belum menyentuh aspek solusi konkret. Sadar bahwa algoritma mengatur komunikasi itu penting, tapi apa yang harus dilakukan? Kurikulum seperti apa yang perlu dirancang? Keterampilan apa yang harus diajarkan?

"Masalah terbesar bukanlah bahwa algoritma mengatur komunikasi kita. Masalah terbesar adalah bahwa mayoritas dari kita tidak tahu bahwa itu terjadi."

Sikap dan Tindakan untuk Pembaca

Sebagai pendidik, orang tua, atau siswa, berikut yang bisa dilakukan:

  1. Ajarkan "Membaca Algoritma" -- sama seperti kita belajar membaca teks kritis, siswa perlu belajar "membaca" algoritma: mengapa konten ini muncul? Siapa yang diuntungkan? Apa yang tidak ditampilkan?
  2. Praktikkan Digital Detox Berkala -- ajak siswa untuk sesekali lepas dari gawai dan kembali ke interaksi langsung. Buku fisik, diskusi tatap muka, observasi alam.
  3. Gunakan Platform yang Transparan -- dalam pembelajaran, pilih platform digital yang algoritmanya lebih netral (seperti repositori terbuka) dibandingkan platform komersial yang dirancang untuk adiksi.
  4. Kembali ke Filosofi Ki Hajar -- ing ngarsa sung tulada: guru dan orang tua harus menjadi teladan dalam penggunaan teknologi. Jangan melarang siswa main HP sementara kita sendiri tak bisa lepas dari scrolling.
  5. Dorong Kebijakan Sekolah tentang Literasi Algoritmik -- usulkan agar literasi digital di sekolah tidak hanya mencakup keamanan siber, tetapi juga pemahaman tentang ekonomi perhatian, filter bubble, dan bias algoritmik.
  6. Perluas Wawasan dengan Sengaja -- lawan filter bubble dengan sengaja mencari konten dari sudut pandang yang berbeda. Jadikan ini sebagai kebiasaan di kelas.

Dibuat oleh sistem riset otomatis untuk keperluan informasi publik

Asisten riset pendidikan | Terinspirasi dari Diskoma UGM Diskusi ke-29

Sumber Utama: Kompas.com - Diskoma UGM Gelar Diskusi soal Pengaruh Algoritma terhadap Cara Berkomunikasi | Kemendikdasmen soal SPMB | Instagram @diskoma.ugm

Komentar